Laman

Rabu, 20 Maret 2013

materi kuliah kedua kewirausahaan (15-3-'13)

Mengapa berwirausaha?
Dan
Apa yang dibutuhkan untuk berwirausaha?
-          Apa yang dibutuhkan?
                Di materi awal sudah dijelaskan mengenai apa itu kewirausahaan. Sekarang kita akan mengenal apa saja yang dibutuhkan dalam mendalami kewirausahaan.
Point pertama yang diperlukan dalam mendalami kewirausahaan adalah mengenai “integritas”. Kita dapat menggambarkan output sistem kinerja tubuh kita seperti segitiga yang terbagi atas beberapa bagian:

Contoh menjelaskan hubungannya adalah seperti saat anda diberikan kesempatan untuk memberikan presentasi jawaban. Dalam pusat pikiran kita di otak, akan diberikan perintah untuk “menjawab” pada kesempatan itu. Disini bagian “THINK” berkerja. Sayangnya, dalam keadaan tertentu yang membuat hati tidak nyaman. Disini “FEEL” yang dirasakan adalah rasa malu, tidak PD dan sekitar kita, sehingga “FEEL”  berkerja membelokan perintah awal dari “THINK” tersebut, sehingga “ACTION” yang muncul adalah “tidak menjawab”.
Integritas digambarkan seperti bagan segitiga ini:
Bagian integritas menyatukan antara “THINK”, “FEEL” dan “ACTION” sehingga antara “THINK” dengan “ACTION” yang muncul adalah sama. Antara apa yang dipikirkan, dirasakan dan dlakukan adalah sama. ”FEEL” muncul membelokkan karena pengaruh keadaan lingkungan disekitar dan kenyamanan yang kita rasakan. Hal ini perlu amat diwaspadai oleh para calon wirausahawan. Seorang wirausahawan harus berusaha mengendalikan “FEEL” mereka agar mereka dapat mengeluarkan apa yang ada dalam pikiran mereka. Dengan mampun mengeluarkan apa yang ada dalam pikiran mereka, dapat menjadi awal dalam menjajaki kewirausahaan lebih dalam lagi.
                Point kedua adalah "komitmen". Bicara tentang komitmen, ada hubungan antara “selingkuh” dengan “AIDS”. Jika dalam dunia nyata orang yang berselingkuh rentan terhadap AIDS, dalam tantangan menjadi wirausahawan yang muncul terlebih dahulu adalah “AIDS”: “A-ngkuh, I-ri, D-engki dan S-irik” lalu terjadilah “Per-Selingkuh-an”. Dalam menjalankan suatu usaha, jika kita melihat sesuatu atau seseorang yang lebih baik, AIDS ini akan muncul. Perselingkuhan yang dimaksud adalah selingkuh, atau menyimpang dari komitmen dalam berwirausaha, sehingga tujuan yang hendak dicapai otomatis akan berbelok dari jalurnya.  Hal ini amat mudah dan sering terjadi sehingga perlu diwaspadai benar-benar. Komitmen itu penting, bisa diibaratkan ia adalah sebagai “pagar” pada jalur mencapai tujuan.
                Point selanjutnya adalah “ABUNDANCE MENTALITY” atau mental yang kaya. Kaya disini bukan hanya dilihat dari sisi financial atau asset saja, melainkan kaya dalam menilai dari berbagai sudut pandang. Dengan mampu banyak melihat dari sudut pandang yang lebih banyak, membawa mental seseorang menjadi lebih tangguh lagi. Mental yang kaya akan terlatih dari keyakinan yang baik, memiliki iman yang baik.
                Dalam berwirausaha pun kita harus ingat akan “PARTNERSHIP”, relasi atau persahabatan. Dalam menjalankan banyak hal, apalagi dalam wirausaha, keberadaan partner amat besar pengaruhnya dan berkaitan dengan keberlangsungan suatu usaha. Dengan relasi partnership yang luas bisa berpengaruh pada kemampuan penyebaran informasi  dan jangkauan pemasaran. Selain itu partner atau sahabat bisa saling mendukung dengan kita satu sama lain. Berusaha bersama lebih baik dalam pengelolaannya karena kita dapat membagi beban dan pikiran satu sama lain.
                Melihat pada budaya “modern” bangsa kita, hal-hal tersebut bisa dikatakan nyaris tidak ada dalam kamusnya. Bagaimana cara memunculkan budaya itu agar bangsa ini mampu bertahan di era global? Caranya tidak lain adalah dengan belajar. Dengan mempelajari budaya itu, kinerja “THINK” dan “FEEL” kita dapat terbentuk dan menjadi mindset tersendiri. Jika hal itu terjadi, maka akan muncul produk budaya yang kita inginkan tersebut.
-          Mengapa berwirausaha?

Jika kita bertanya mengapa beriwirausaha, kita harus melihat fakta lapangan yang sekarang kita hadapi. Sekarang adalah masa ekonomi “gelombang ketiga”. Disini yang berperan adalah kemajuan tekn ologi informasi. Pada era industrialisasi, yang mampu menguasai ekonomi adalah mereka yang memiliki modal mesin yang maju dan  banyak jumlahnya. Dan, di era ekonomi “gelombang pertama”, mereka yang berkuasa adalah mereka yang memiliki lahan yang luas sebagai asetnya.
Kita hidup dimasa seseorang, jika mau bertahan dan mengusai adalah ia yang mampu mengusai informasi lebih baik. Jaman ini adalah bukan jaman dimana bekerja hanya sekedar mengandalkan otot, atau terpaku pada hal-hal monoton. Sumber daya yang mampu bertahan dimas sekarang adalah pekerja yang memiliki pengtahuan yang luas dan multiskill, “Be a Knowledge’s Workers”.
                Pemilik modal berupa asset nyata yang luar biasa banyaknya tidak menjamin ia akan bertahan selama-lamanya. Kekuatan bukan menjadikan jaminan kesuksesan. Analoginya adalah “kecoa” dan “dinosaurus” yang muncul dimasa yang sama, sekitar ratusan juta tahun yang lalu. Tetapi, sekarang yang mampu bertahan adalah hewan besar dan kuat seperti dinosaurus, melainkan serangga kecil yang mampu beradaptasi seperti kecoa. 




 VS








 
Untuk dapat bertahan, kita perlu sifat “responsif” dan “adaptif”. Tetapi hal itu baru cukup untuk sekedar bertahan, bukan untuk lebih maju lagi. Untuk lebih berkembang, butuh daya “kreasi/kreativitas” dalam melihat suatu keadaan, sehingga kita tidak hanya mengikuti, tetapi turut menciptakan suatu trend tersendiri. Sikap-sikap “responsif”, “adaptif” dan “kreatif” itulah tujuan dan mindset yang diarahkan dalam kewirausahaan, sehingga menjawab pertanyaan “mengapa berwirausaha?”. “Everyone is Master of His Own Destiny”, menunjukan bahwa setiap orang adalah yang menjadi penunjuk arah bagi dirinya sendiri bukan orang lain. Jadi dengan menjadi pribadi yang memiliki “nilai lebih”, bisa membawa dirinya sendiri kearah yang sesuai dalam peta kehidupannya masing-masing.